Pengenalan
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
Pemanfaatan tenaga nuklir dalam
bentuk PLTN mulai dikembangkan secara komersial sejak tahun 1954. Pada waktu
itu di Rusia (USSR), dibangun dan dioperasikan satu unit PLTN air ringan
bertekanan tinggi yang setahun kemudian mencapai daya 5 Mw. Pada tahun 1956 di
Inggris dikembangkan PLTN jenis Gas Cooled Reactor (GCR + Reaktor berpendingin gas) dengan daya 100 Mw.
Pada tahun 1997 di seluruh dunia
baik di negara maju maupun negara sedang berkembang telah dioperasikan sebanyak 443 unit PLTN yang
tersebar di 31 negara dengan kontribusi sekitar 18 % dari pasokan tenaga listrik dunia
dengan total pembangkitan dayanya mencapai 351.000 Mwe dan 36 unit PLTN sedang dalam tahap
kontruksi di 18 negara.
Apa itu
PLTN?
• Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
atau PLTN adalah sebuah pembangkit daya thermal yangmenggunakan satu atau
beberapa reaktor nuklir sebagai sumber panasnya. Prinsip kerja sebuahPLTN
hampir sama dengan sebuah Pembangkilt Listrik Tenaga Uap, menggunakan
uap bertekanan tinggi untuk memutar turbin. Putaran turbin inlah yang
diubah menjadi energi listrik.Perbedaannya ialah sumber panas yang digunakan
untuk menghasilkan panas. Sebuah PLTN menggunakan Uranium sebagai sumber
panasnya. Reaksi pembelahan (fisi) inti Uraniummenghasilkan energi panas yang
sangat besar
• Daya sebuah PLTN berkisar antara 40
Mwe sampai mencapai 2000 MWe, dan untuk PLTN yangdibangun pada tahun 2005
mempunyai sebaran daya dari 600 MWe sampai 1200 MWe. Sampaitahun 2006 terdapat
443 PLTN yang beroperasi di dunia, yang secara keseluruhan menghasilkan daya
sekitar 1/6 dari energi listrik dunia.
•
Pada
dasarnya prinsip kerja Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN sama
halnya dengan Pembangkit Listrik Konvensional. Dalam proses
kerjanya, air akan diuapkan dalam suatu wadah (ketel) dengan melalui
pembakaran. Dalam pembakaran tersebut akan menghasilkan uap yang akan dialirkan
ke dalam turbin yang akan bergerak jika terdapat tekanan uap. Dalam proses
tersebut turbin akan bergerak. Bergeraknya turbin ini berfungsi untuk
menggerakkan generator yang akan menghasilkan energi listrik. Jika dalam
Pembangkit Listrik Konvensional, bedanya yaitu bahan bakarnya dalam
menghasilkan uap panas, yaitu dengan minyak, gas, atau batubara.

Proses
dari pembakaran bahan bakar tersebut akan menghasilkan gas Karbon
Dioksida atau CO2, Sulfur Dioksida SO2 dan juga Nitrogen
Dioksidaatau disebut juga Nox, selain itu pembakaran tersebut menghasilkan
debu yang mengandung kadar logam berat. Sisa-sisa pembakaran tersebut di atas
akan menjadi gas emisi ke udara dan berpotensi besar terhadap pencemaran
lingkungan. Beberapa pencemaran lingkungan tersebut yaitu hujan asam dan pemanasan
global (Global Warming).
Tahukah
Kamu tentang Manfaat dan Kerugian dari Tenaga Nuklir?
• Seiring dengan perkembangan
teknologi, serta semakin kurangnya sumber energi dunia saat ini, sumber daya
energi dari Nuklir pun menjadi salah satu yang dipertimbangkan Indonesia
menjadi pemasok energi yang sangat potensial bagi kebutuhan masyarakat.
• BBM yang makin tinggi, serta efek
pemanasan global yang dihasilkannya membuat negara-negara maju seperti Amerika
menjadikan nuklir sebagai sumber energi yang penting bagi kebutuhan listrik
disana.
• Lalu apa saja manfaat dan
kerugiannya jika kita membangun PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir)?
Berikut fakta-fakta seputar energi nuklir yang bisa dipertimbangkan baik
buruknya.
• Fakta Manfaat:
- Amerika adalah salah satu negara dengan pengguna energi nuklir terbesar.
Nuklir di Amerika menghasilkan sekitar 20 persen energi dari 103 PLTN yang ada.
- Prancis adalah salah satu pemasok
listrik dari energi nuklir terbesar hingga 75% listrik domestik dari 59 PLTN
yang beroperasi.
- Di Asia Korea, menjadi penghasil
energi listrik terbesar dari nuklir hingga 40% energi dari 20 PLTN yang
beroperasi.
- Tercatat sekitar 439 PLTN yang
beroperasi di 32 Negara
- Nuklir termasuk ramah lingkungan
karena limbah produksinya sedikit di bandingkan dengan bahan bakar fosil karena
tidak menghasilkan logam berat seperti cadmium, plumbum, arsen, serta gas emisi
seperti SO2, VHC.
- Pembangkit listrik tenaga nuklir
menggunakan reaksi fisi (proses pemisahan atom menjadi inti yang lebih kecil)
- Sumber energi reaksi nuklir berasal
dari Uranium yang tidak terbarukan
- Tidak
mencemari udara /tidak menghasilkan gas-gas berbahaya sepert karbon monoksida, sulfur
dioksida, aerosol, mercury, nitrogen oksida, partikulate
atau asap fotokimia
- Limbah
radioaktif nuklir dipendam di didalam wadah di bawah permukaan tanah dan
biasanya di gunung hingga radioaktif nya hilang.
- Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (selama operasi normal) - gas rumah kaca
hanya dikeluarkan ketika Generator Diesel Darurat dinyalakan dan hanya sedikit
menghasilkan gas)
- Sedikit menghasilkan limbah padat (selama operasi normal)
- Biaya bahan bakar rendah - hanya sedikit bahan bakar
yang diperlukan
Fakta
Kerugian/Bahaya :
- Ledakan
Nuklir dapat menghasilkan radiasi sangat tinggi yang melepaskan elektron dan
mampu merusak DNA.
- Bencana Pertama tercatat sebagai bahaya nuklir adalah saat Bom Hirosima dan
Nagasaki yang mempu menghancurkan wilayah tersebut hingga berkeping-keping
hingga menewaskan 140.000 orang di Hirosima dan 80.000 orang di Nagasaki.
- Saat suatu daerah terkena ledakan nuklir, maka nuklir akan naik ke atmosfer dan
tetap berada di atmosfer hingga bertahun-tahun sebelum mengendap di udara atau
dipermukaan tanah.
- Tahun 1979, pembangkit listrik tenaga nuklir meledak di Three Mile Island
Pennsylvania. Bencana tersebut membuat 2 juta penduduk terdekat terkena
radiasi rendah (kurang dari kekuatan sebuah x-ray).
- Bencana terburuk lainnya dari ledakan PLTN
dalam sejarah terjadi di Ukraina pada tahun 1986. Ledakan di Pembangkit
Listrik Chernobyl menewaskan 30 pekerja dan menyebabkan relokasi dari 300.000
penduduk. Dalam tahun-tahun berikutnya, ribuan anak-anak yang tinggal di
dekat pabrik menderita kanker tiroid.
- Jepang
telah mengalami 3 kali ledakan PLTN sejak tahun 1999. Kecelakaan terbaru
tahun 2011 di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima terjadi setelah gempa
9,0 skala Richter dan tsunami berikutnya yang merusak sistem
pendingin. Pemerintah mengevakuasi lebih dari 2.000 penduduk dari radius
20 kilometer di sekitar pabrik.